Thursday, September 21, 2017

Puasa Media Sosial

Engga siap menghadapi kenyataan kalau harus puasa media sosial :(

Saat nulis ini, saya lagi terjebak macet hampir 5 jam di jalanan antara Pekanbaru-Duri. Yesh, NO INTERNET CONNECTION AT ALL. So here I am writing my long postponed thought.

Di tengah kemacetan tanpa internet ini saya merasa sedikit sakau. On-Off Airplane mode, berharap ada secercah sinyal. Buka instagram, buka twitter, buka facebook, buka path, buka line, buka whatsapp; berharap ada feeds baru yang muncul. Ternyata enggak ada samsek. Baiklah.

Saya mulai merasa adiksi saya ke media sosial ini makin hari makin parah. Awalnya saya buka media sosial untuk membuat saya melepas stres. Cari meme lucu, lihat foto aesthetic, browsing berbagai hal tentang disney, dll. Tapi kok ya makin kesini, setelah buka media sosial rasanya saya makin stres. Banyak twitwar, hoax merajalela, hate-speech, nyinyir, and oh even seeing somebody happy posts envy me a lot.

Surprisingly, bukan cuma saya yang ngerasa jenuh dengan media sosial! 
Teman saya, Emil (@emiliats), adalah yang pertama saya notice. Ia memutuskan puasa selama sebulan penuh dari instagram. Ada juga Mas Ruby, dengan akunnya @captainruby, memutuskan untuk 'dimatikan' sampai entah kapan. Dan saya juga baru ngeh saat Gabby (@gabbypella), teman satu geng saya, cerita bahwa ia sudah hampir 2 bulan engga buka instagram. What?! Why?

Alasan ketiganya beragam.

"Gue merasa banyak banget postingan yang toxic, Min. Jadi gue putuskan untuk rehat sejenak, yaa semacam detox lah."
"Gue jenuh. Kalau gue post sesuatu rasanya sudah ketebak reaksi orang-orang terhadap postingan gue. Rasanya akun ini bukan diri gue lagi."
"Gue ngerasa makin jauh dengan orang-orang. Gue engga perlu tanya mereka lagi sibuk apa karena gue udah tahu apa yang baru aja mereka lakukan."

Lho. Ternyata bukan cuma saya ya yang merasa seperti ini?

Kemarin saya baca hasil penelitian teman saya, Nimas, tentang dampak instagram terhadap penggunanya. Seperti paparan pada penelitian sejenis, terbukti instagram membuat penggunanya membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Tanpa sadar, kita jadi merasa engga enak terhadap diri kita sendiri, atau bahasa ilmiahnya, negative social comparison. Nah bahaya banget ternyata kalau kita sering merasa jelek terhadap diri sendiri karena bisa menimbulkan depresi. Lengkapnya, bisa colek @nimasrs yaa.

Pantesan saya makin stres kalau buka media sosial! Apalagi instagram! Apa saya puasa juga ya?
Saya hampir un-install aplikasi instagram saya, namun batal karena saya baru ingat bahwa saya adalah mimin-mimin akun instagram kantor. Ya kalo engga nge-post, engga perform dong :p

Akhirnya saya putuskan untuk puasa setengah aja layaknya anak SD belajar puasa. Selain karena saya seorang mimin, saya rasa saya malah makin sakau kalau tetiba engga ada media sosial. Saya mencoba untuk mulai dari unfollow (bahkan nge-block) akun-akun toxic. Iyah, saya nih hobi banget follow akun gossip, haters, atau selebgram drama. Tiap buka instagram, bisa satu jam sendiri saya habiskan untuk baca berita-berita nyinyir ini (and I'm wondering why my life is so depressing?!? Duh.)

Susah engga sih menahan diri dari kepo akun-akun kaya begini? 
Susah banget! Makanya saya memilih untuk nge-block aja. Tiap kali tergoda mau buka, saya mensugesti diri sendiri: 
"Ayo Mine kamu kuat. Ingat, kalau buka akun ini after effect-nya hanya makin nyinyir saja. Nirfaedah. Kesehatan mental > kenyinyiran sesaat."
Dan berhasil. Sampai saat ini sudah 3 minggu saya menjalani hidup tanpa kenyinyiran dan rasanya jadi lebih indah!

Anyway, kalian pasti penasaran apa yang terjadi dengan 3 teman lain yang benar-benar puasa penuh media sosial.

"Gue ngerasa lebih banyak baca! Bacaan bermutu pastinya ya. Waktu gue engga terbuang percuma."
"Percaya atau engga, gue jadi lebih produktif. Baik di kerjaan maupun waktu luang."
"Gue merasa hubungan gue dengan orang lain jadi lebih real dan intimate. Ketika gue tanya 'Apa kabar?' ke orang lain, yaa itu karena emang gue ingin tahu kabar lo. Bukan cuma basa basi."

Sounds nice yah?



Saat menulis ini, saya sedang di tengah kemacetan 5 jam Pekanbaru-Duri yang engga berujung. Saya memang jadi engga tahu apa yang teman-teman saya lakukan di luar sana. Tapi saya tahu cerita keponakan di sekolahnya, pengalaman Uwak saat masih aktif kerja, dan karaoke lagu 90an bareng teman baik saya. 
Dan yang paling penting, beberapa jam tanpa media sosial menghasilkan post ini!

Monday, August 28, 2017

Kapan (Siap) Nikah?


Sebuah Pertanyaan
Saat ini umur saya 23 tahun. Alhamdulillah, sudah lulus kuliah dan sudah punya penghasilan sendiri.
Pasti sudah bisa ditebak dong apa pertanyaan orang sekitar pada umumnya?

"Kapan nikah?"

Yakin banget, saya bukan satu-satunya orang yang sering dapat pertanyaan seperti ini.
Kamu yang baca tulisan ini pasti udah sering ditanya hal yang sama. Jawaban kamu apa?
'Mau S2 dulu'?
'Jodohnya belom ada.'
'Ngumpulin uang dulu.'
dll, dsb, dst.

Buat saya pribadi ini bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Growing up as a teenager in a broken home family, tanpa sadar membuat saya agak sulit untuk memulai hubungan romantis dengan seseorang. I have a lot of guy friends. Easy for me to make new friends. But when it comes to a romantic relationship, I could take months to finally say 'Ok, let's be a couple!'.
Ini baru pacaran. Kebayang engga, kalau saya mulai memasuki fase 'jenjang berikutnya'?

Kadang saya kepikiran. Misalkan uang sudah ada, jodoh sudah ada, S2 sedang/sudah di tangan. Apakah menjamin bisa menjawab pertanyaan 'kapan nikah'?
Atau mungkin pertanyaan ini harusnya diganti jadi:

"Kapan siap nikah?"

Panik?
Panik itu wajar kok. Saya panik (BANGET) ketika ditanya kesiapan saya untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Banyak pertanyaan 'nanti bagaimana?' yang perlu dibicarakan bareng partner saya. Saya bukan tipe yang jalanin aja dulu, menurut saya sebuah perencanaan itu penting banget agar kami berdua lebih siap dan ENGGA PANIK!

Dalam rangka mengurangi kepanikan, kami mencoba mencari pertolongan dari berbagai artikel. Mulai dari artikel receh macam hipwee, sampai artikel serius yang bahas menikah dari sisi psikologi. Beberapa kali kami bahas teori tentang cinta, attachment, dll. Tapi jujur, agak sulit menjelaskannya haha. Jadi nyesel dulu engga ambil kelas Hubungan Interpersonal :(

Memulai Diskusi
'Duh ini mau nikah atau kerjasama bisnis sih? Ya kali pakai diskusi dulu.'
Yaa memilih partner bisnis aja engga bisa sembarangan, apalagi memilih partner seumur hidup?

It's about US. Makanya diskusi itu PENTING!

Saya sendiri memulai dengan duduk bareng dan sama-sama mencoba menjawab 18 Pertanyaan yang Harus Kamu Ajukan Sebelum Menikah. Kalau ditanya apa rasanya ngobrolin hal beginian untuk pertama kali, DUH PUSING! Biasanya bercanda receh, tapi ini super serius. Rasanya malah makin banyak yang dipikirin!
Namun karena penulis artikel tersebut dari luar negeri, bahasannya menurut saya terlalu general. Kurang pembahasan dengan kearifan lokal. Rasanya diskusi ini kurang afdol.

Beruntung saya menemukan akun psikologi yang terjamin secara teori. Namanya @generasi.2 . Nah akun ini keroyokan dengan banyak Psikolog lain, baru aja menerbitkan buku 'Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan'. WADUH PAS BANGET DONG BUAT SAYA!
Setelah beberapa kali numpang baca di toko buku lihat review, akhirnya saya memutuskan untuk beli bukunya online. (Iya, kalau beli online lebih murah beberapa ribu perak haha #SayangUangnya).

Isi bukunya oke banget! Selain desainnya yang engga kacangan, saya suka dengan alur bukunya yang mengajak kita untuk mengenali diri dulu sebelum lanjut ke mengenali pasangan. Berbeda dengan si artikel tadi, di buku ini tiap bab-nya runut. Ada beberapa hal yang belum dibahas di artikel. Konteksnya pas banget dengan budaya indonesia. Saya senang juga bahwa pembahasannya tuh engga asal, tapi berdasarkan teori psikologi. Nah yang paling penting nih, bahasa yang digunakan pas buat muggle orang awam yang engga punya background psikologi.
Awalnya buku ini mau dijadikan piala bergilir di geng saya buat yang mempersiapkan pernikahan. Tapi engga jadi karena di beberapa halaman dalam buku ini ada kuis kecil buat saya dan pasangan. Hihi hasil dari si kuis ini bisa jadi bahasan diskusi lagi lho.

Sedikit cuplikan dari daftar isi si buku Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan

Buku ini bukan tanpa kekurangan. Memang untuk persiapan mental, lengkap banget. Namun untuk persiapan teknis pesta pernikahan, buku ini belum lengkap. Saya masih harus berburu lagi informasi ini dari sumber lain.

Perintilan Pesta Pernikahan
Thank you instagram, sekarang menikah tuh rasanya jadi mahal banget! Stres engga sih kalau baca cerita orang menghabiskan biaya nikah sampai ratusan juta? Duh.
Saya sih juga engga berminat mengadakan pesta besar mewah ala selebgram. Saya lebih ingin merayakan dengan orang-orang terdekat dan intimate aja. Tapi harus mulai dari mana?

Beruntung saya kenal Nisa di Limitless Campus. Anak yang hobinya nyengir lebar ini adalah seorang banci event. Kayanya engga kehitung deh jumlah event yang pernah dia tangani. Kerennya lagi, Nisa baru aja punya Wedding Organizer sendiri, The Palakrama. Senangnya lagi, kemarin The Palakrama baru mengadakan workshop pertamanya 'Pesta Nikah Surplus'.

Mbak Peggy yang super keren dalam dunia event organizing.

Banyak banget ilmu yang saya dapatkan hari itu! Saya coba share beberapa 'poin' yang menarik yaa.

1. Mulailah dengan Menentukan Budget
Selama ini saya kira memulai pesta itu dengan menetukan konsep atau booking venue. Tapi ternyata kurang tepat. Mulailah dengan menentukan budget dan stick to it no matter what. Konsep, venue, vendor, dll haruslah mengikuti budget yang sudah ditentukan di awal.
Lalu baiknya nge-budgetin berapa buat nikah? Ya tergantung kamu ikhlasnya ngeluarin berapa duit buat pesta 2 jam aja :)
2. Siapa Bayar Apa
Ini harus jelas banget. Diskusi dengan pasangan. Apakah dari kocek sendiri atau orangtua? Siapa yang bayar gedung? Siapa yang bayar katering? Dan banyak banget perintilan lainnya.
3. Surplus? Maksudnya?
Poin ini menarik banget. Surplus di sini bukan profit layaknya bisnis sih. Tapi lebih ke memperkirakan kamu akan dapat apa setelah mengeluarkan uang sebanyak itu. Bisa mulai dengan memperkirakan besaran amplop yang diterima ataupun barang kebutuhkan rumah tangga baru. Saya sendiri sepertinya akan menyiapkan wishlist kebutuhan rumah tangga. Kali aja ada tamu yang ingin beri kado tapi engga tahu persis saya lagi butuh apa kan? :p
4. Menata Makanan
Ada trik cerdiknya dalam menata buffet dan stall. Intinya sih, siapkan proporsi buffet dan seluruh stall haruslah 75:25. Perbanyak stall, jadi antrian engga numpuk. Kalau bisa, beberapa menu buffet diubah jadi stall aja.
5. Hati-Hati dengan Paket Wedding
Perhatikan baik-baik penawaran paket wedding. Kalau engga tahu persis komponen yang bisa dinego, jadinya malah lebih mahal lho.
6. Pakai WO atau Engga?
Pakai WO bisa menghemat waktu dan tenaga (pikiran sih kayanya tetap sama pusing yaa :p). Selain punya kenalan vendor, WO bisa juga jadi penengah kalau ada problem antar 2 keluarga. WO yang bagus apa dong? Waduh, ini sih kayanya tergantung selera (dan budget) yaa.

Senang banget dengan workshop kecil yang bahasannya belum tentu bisa saya dapatkan cuma dari baca artikel. Lebih senang lagi saat dikasih buku catatan yang berisi checklist segala perintilan pernikahan. Yeay, aku engga perlu beli buku checklist dari WO yang mahal itu deh!

Siapa sih yang kepikiran perintilan kaya begini?!

Lalu, Kapan Siap Nikah?
Saya belum bisa jawab. Tapi yang pasti saya sudah tidak panik dan lebih siap dibanding setahun lalu.
Tulisan ini saya buat untuk berbagi aja ke teman-teman yang akan/sedang ngebet/penasaran menikah. Kalau ada saran/tambahan, boleh banget lho share di comment. Semoga sharing saya ini membantu untuk lebih siap menapaki jenjang baru ya!

Buku pegangan wajib saya dan calon partner hidup.

Sunday, July 2, 2017

Limitless Campus: A Limitless Empowerment



Ketika akan lulus, ada satu hal yang paling saya takuti: engga bisa belajar lagi!

Yaudah sih, Min. Ambil S2 aja. Gitu aja kok repot.

Bukan, bukan belajar yang akademis gitu. Belajar yang ke arah pengembangan diri.
Kalau saya perhatikan nih, rasa-rasanya acara seminar/workshop itu privilege-nya para mahasiswa semua. Anak baru lulus kaya saya jarang diperhatikan. Rasanya seperti dituntut: "Ya harusnya kamu udah bisa dong!". Padahal sejujurnya, saya merasa masih banyaaak sekali hal yang harus saya pelajari, untuk menjalani hidup di dunia orang dewasa beneran.

Engga mau dibatasi status karyawan, saya secara rutin scrolling social media untuk cari workshop yang saya banget. Banyak yang bawa topik seru, tapi waktunya engga pas dengan jam karyawan. Sekalinya ada yang di weekend, topiknya kurang menarik buat saya. Sampai suatu hari saya menemukan kul-tweet dari idola saya, Rene Suhardono.

Foto bareng idola!


"Njir, bahasannya bener banget!"

Apa yang dikuliahkan Rene tentang pekerjaan baru yang akan muncul, under employment, konsep knowing self - aiming the goals; ini isu-isu yang selalu saya angkat sejak pembuatan skripsi sampai membawakan materi workshop di kantor. Lalu orang macam apa ini yang berani-beraninya menjanjikan kita bisa merancang hidup dalam 3 bulan?! Gratis pula!
Jangan-jangan isinya kelas motivasi kaya yang di tv atau kelas ditakut-takuti bendera kuning??

Tapi saya tetap apply.

Limitless Energy
Singkat cerita, dari ratusan pendaftar. Saya masuk shortlist 60 orang yang akan diwawancara lebih lanjut di Day 0. Sumpah, never in my life, I entered a room a suddenly feel so much energized. I'm 80% extrovert and I can tell you, all the human inside the hall radiates the superb positive vibes! The seating arrangements so comfy, the sessions are insightful, and there are a lot of interesting peeps around me. Sampai rasa-rasanya engga pede akan kepilih jadi students.
But hey, I got selected as one of the student! Senang banget walaupun sejujurnya kurang tahu selama 3 bulan ke depan akan ada apa saja...

The crews told me that for the next 10 meetings wouldn't be easy. Hasilnya Limitless Campus akan sangat tergantung dari bagaimana diri kita sendiri menyikapinya. Dan yaa, they don't guarantee anything would go smooth as it is the first batch ever held, kami kelinci percobaannya lah. Saya sendiri juga belum benar-benar ngeh maksud dan tujuan dari Limitless Campus sampai di pertemuan keempatnya. Yang saya tahu, dengan ikut ini, saya jadi punya 'hal yang ditunggu-tunggu setiap weekend' (selain pacaran, tentunya :p).

Limitless Inspiration
Guess what, I had the most insightful 5 months ever. You know what, I got exposed to so many inspiring people, sharing stories and actually given a chance to chat with them! Bisa dipastikan yang mengisi kelas-kelas ini adalah para influencer. Orang-orang dari berbagai bidang profesi. Orang-orang keren yang bekerja dengan hati. Surely the ecosystem I need the most!

Saya senang banget dengar cerita tentang perjalanan hidup seseorang. Bagaimana ia ada di posisinya sekarang pasti melalui proses yang panjang dan berliku. Hidup engga selamanya smooth, pasti ada masa-masa jungkir balik, berada di puncak, continuous reflections, dll. Satu hal yang sama dari semua speaker ini adalah bagaimana mereka sangat mengenal dirinya sendiri. Tahu apa yang menjadi kelebihan mereka, tahu apa yang mereka suka, tahu apa yang menjadi concern mereka. What a role model, ya!

Limitless Empowerment
Limitless Campus mempunyai kurikulum 'Kenal Diri - Amati Sekitar - Ambil Peran'. Dan ini direfleksikan dalam kelas-kelas dan challenges yang diberikan ke kami setiap pertemuannya. Engga, jangan dibayangkan kelasnya seperti kuliah. Banyak banget aktivitas yang kita lakukan, mulai dari games kecil-kecilan, membayangkan diri sudah mati, sampai yoga. Yang paling seru tentunya ketika kita diberi tugas membuat group project! Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, setiap grup diharuskan membuat proyek barengan dengan tema yang sudah ditentukan. Grup saya, Agni (yang artinya Api #HotAF), diberi tema seru yaitu CINTA. Bagaimana caranya membuat orang mencinta dan merasa dicinta. Cihuy. Hasil group project kami adalah akun instagram di mana semua orang bisa cerita. Ketika cerita kamu didengar, kamu merasa dicinta. Ketika kamu membaca cerita, kamu bisa mencinta. Yaa kurang lebih begitulah. Mari cek @marimerasa.

LOVE IS IN THE AIR~
pic after the presentation


Honestly speaking, each session is insightful. So insightful, I must say. But I find it difficult to find the big picture of what is the goal of being in Limitless Campus. Took me about several workshops until I found that

Limitless Campus is about empowering people.

Selama 3 bulan yang singkat, ternyata kami diajak mengenali diri, untuk tahu apa yang jadi 'pain' - hal yang membuat kita gerah/geram/gemas - dan mulai bertindak melakukan sesuatu untuk mengubah hal tersebut. Menarik ya. Ternyata punya 'concern' aja engga cukup, harus ada yang dilakukan. Bahasa keren-nya, talk less do more.
I could write thousands words about how cool the Limitless Campus students' projects are, but I think you should take a peep by yourself here.

Beyond that, I learned that education is about empowerment.
Sebuah pendidikan dikatakan berhasil apabila kamu merasa mampu dan berdaya melakukan sesuatu setelah mendapatkan ilmu tersebut. Melakukan sesuatu secara konkrit dan nyata - menghasilkan suatu karya.
Engga, saya engga bicara pendidikan yang duduk dalam kelas doang kok. Pendidikan bisa dari mana saja. Nonton Youtube berfaedah pun termasuk pendidikan. Bicara suatu karya pun, bukan cuma yang dipajang. Karya bisa sesederhana membuat akun instagram yang menyuarakan isi hati kita. Yang penting ada aksi konkrit yang dilakukan.

Saya sendiri masih belajar. Masih terus belajar untuk menemukan diri saya, mengamati sekitar, dan secara konsisten melakukan sesuatu untuk mengubah hal yang membuat saya gerah.




Limitless Appreciation
Teruntuk orang-orang yang membuat perjalanan saya di Limitless Campus sangat berkesan.

Agni - ceritanya jadi pilot
(Ki-Ka) Nazier, Ratu, Tesa, Me, Kimbar, Lala, dan Lutfhan
(Almost) Full team Agni coaches & coachees
My coach, mas Ario (@sheggario!
Mas Ario ini orang pertama di Limitless Campus yang mengajarkan kita untuk berdaya. Bahkan sejak dari Day 0.
Caranya? Simple banget, kita semua disuruh nge-vlog! Menceritakan pengalaman selama seharian itu.

Bunch of cool peeps with passion, action, and consistency. The kind of circle that you want to have in your life.
Thank You Limitless Campus!

I really recommend you guys to join a community like Limitless Campus.
Good news, they're opening new batch this July 2017. I've heard the new concept and I can assure you it will be much much more awesome than my batch (Yaiyalah! Batch 1 kan kelinci percobaan :p). Dan mungkin kalau engga sanggup commit dengan hadir selama 3 bulan penuh, kamu bisa ikutan Public Class-nya setiap bulan.
Keep update by following their IG @LimitlessCampus yaa!

Sunday, February 5, 2017

Senandung Maaf (Ukulele Cover)

I love music.
I like to pretend that I live in a music video.
It gives me spirit to do anything.
I got pretty wide range of favorite music too, from renaissance to EDM.
The only genre I don't do is metal.
Oh have I told you I love singing?
So much, I at least do humming if I hear some music.
I can sing some notes pretty well.
But not that awesome, tho.
I am familiar with few musical instruments, too.
But just a newbie.
I play for fun only.

Lately, my brother and I obsessed to ukulele cover.
Never know it's not that hard and yes, it is that fun!
We made some song covers, and here's the first good enough one that I upload.
ENJOY!

https://www.youtube.com/watch?v=Q7F8xIQRUHc

Wednesday, February 1, 2017

Circle of Friends

"When you get older, your circle of friends would become smaller and smaller." 
-Dad

My dad told me this gazillion times whenever he did a once a year reunion with his college friends. And yes, it's a very small number of reunion attendees.
I didn't even try to believe what my father told me. Hello, I am a kind of girl who easily blend in any groups. I could say, I got pretty much a lot of friends. And my plus point would be: I have a lot of energy, especially when it comes to a meet up. I said to myself, "I would do anything to meet up with as many friends I have. That's what friends are for!"

Then reality hits me.
I was young, I was naive.
I forgot that I only got 24hours in a day.
Now I struggle on juggling the balls of work, health, love, and fun. I got a very limited of time on balancing those balls. I need to manage them well. As for now, I put fun as the least priority. I could say, I only give fun 15% of my time in a week. Which means, I only get a limited time to meet friends. And of course, there are several closest friends I'd love to meet. But whom to meet first in your very limited of time?
It's all about priorities.

I must say, I have several circle of friends I would like to keep because these guys give me a positive vibes. I would do anything to meet up with them. But as months goes by, I could categorize this people into few groups again:

Friends Who Are Always Ready To Hang Out
"Hey, let's go to X tomorrow after office!"
"Yeah, see you!"
I tell you, this kind of friend is worth keeping. They're always ready. Not that mean they're not busy, but you are the #1 on their list so they would do anything to meet you. A bit impulsive, I know. But sometimes we need an element of spontaneous in our life, yes?

Friends Who Are Busy But Still Try To Make Time For You
"Hey, let's go to X tomorrow night!"
"Pretty busy tomorrow night. The day after or today?"
"Deal!"
I have a very best friend who happened to be always busy. But whenever I ask for a quick meet up, this person would say yes. Somehow, it shows the willingness to really meet you and you are that worth to meet. Stay close with this kind of friends.

Friends Who Are Just Out Of Your Reach
"Hey, let's meet up tomorrow!"
"I can't. I already have a schedule."
"Well, okay, when will you be available?"
"Let's have it next month!"
Just don't bother hoping for a meet up. 90% guaranteed, a meet up won't happen if you schedule it in 2 weeks. Based on my experiences, 1 week is enough. If it's more than one week, both of you will forget the appointment. Simply because you become less important for them. I kid you not, the longer the time period, the lesser the chance these kind of meet ups would happen.
Yes, I know you still wanna be friends with this people. But now you have to try to let go this person. It is not a healthy relationship where only one person gives an effort. You need to know, we can't put everyone on our #1 list.

Reality slapped me so hard. 
Being adult not only mean managing your time, money, etc. 
Turns out you have to manage your friends too.

ugly truth, baby.


Wish me luck to keep and let go :')

Sunday, January 22, 2017

Belajar Atur Uang Seperti Orang Dewasa

Postingan ini dibuat karena di malam minggu kemarin saya di-chat teman saya, Emil.

"Min"
"Apa"
"Mana"
"Mana apa"
"Katanya lo mau cerita tentang financial planning"
(terus saya read doang)

LOL.
Jadi minggu lalu saya ikutan kelas tentang Financial Planning yang diadakan Limitless Campus. (Saya akan buat postingan sendiri tentang Limitless Campus ini, tapi nanti. Sekarang kalau kepo, cek aja dulu instagram-nya Limitless Campus yang aesthetic di sini @LimitlessCampus). Kelas hari itu bahas tentang 'How to Find Your Financial Purpose' dan dibawakan langsung oleh Mbak (atau Teteh?!) Ligwina Hananto. Saya excited banget! Udah sejak lama saya tahu nama Mbak Wina ini di dunia mengatur keuangan. Teman dekat saya sudah baca bukunya, mengamini seluruh tulisan Mbak Wina dan mencoba menerapkan si isi buku. Kapan lagi bisa dengar langsung ‘kuliah’ dari pakarnya?

Teh Wina (kanan) orang pertama yang saya lihat ngomongin uang tapi seru

Di post ini saya mencoba menuliskan kembali apa saja yang saya dapat selama 2 jam sesi bersama Mbak Wina. Awalnya sih mau saya tweet aja, tapi kok ya tetiba teringat blog yang belum diisi apa-apa di Januari ini. So here it is:

Sesi dimulai dengan cerita dan gaya ceplas ceplos dari Mbak Wina. Ceritanya tentang dirinya, pertemuan dengan suaminya, menikah, pindah rumah, adaptasi gaya hidup, punya anak, dan banyak lagi. Seru!
Lalu tiba-tiba muncul slide mengenai hal-hal apa saja yang lingkungan dikte-kan kepada kita, dewasa muda, sebelum berusia 30 tahun:
Lulus kuliah (kalau bisa sih, S2). Karier bagus. Menikah. Punya rumah. Punya anak. Punya bisnis sendiri.
JENG JENG. Banyak banget yaa. Kalau dipikir-pikir, sekarang aja saya sudah berumur 23. Berarti saya hanya punya waktu 7 tahun untuk memenuhi ‘tuntutan’ masyarakat agar bisa dikategorikan sukses. Seriously?

No. You are designing you own life.
Engga usah lah dengerin apa yang orang sekitar suruh kita. Yang menjalani hidup kan kita sendiri. Dari berbagai aspek tadi, pasti ada yang ingin kita wujudkan duluan, ada yang belakangan. Engga ada benar, engga ada salah. Semua itu kamu yang atur.

Before you reach 30, it’s about developing yourself.

Developing di sini bisa diartikan sendiri dalam berbagai aspek. Engga harus akademis, bisa juga mengembangkan pengalaman, asmara, apapun. Ya mungkin kita engga bisa mencapai semuanya sebelum usia 30. Tapi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab, ada hal-hal yang harus kita siapkan sebelum menginjak usia 30 dong.

Menghasilkan Uang
Ada 3 cara di mana kamu bisa menghasilkan uang: Kerja, Bisnis, atau Punya aset yang menghasilkan. Dan, jangan bergantung pada 1 sumber pemasukan saja!
“Waduh Mbak, what if, I don’t like and I know I’m not really good at doing business? I’m pretty much okay if I have to work for someone in my entire life.”
Yaudah, engga apa-apa. Tiap orang punya pintu rejekinya masing-masing kok.
Mbak Wina cerita bahwa dirinya paling sebel dengan so-called-motivator yang menyuruh jadi entrepreneur. Jadi karyawan ataupun punya bisnis sendiri itu sama mulia-nya lho. Mbak Wina banyak cerita tentang kasus klien-kliennya. Ada pasangan yang suaminya sudah belasan tahun berjuang dalam berbisnis, tapi masih saja belum bisa menafkahi keluarga. Ada juga pasangan yang suaminya seorang PNS dan hanya mampu memberi sedikit uang setiap bulannya. Menurut dia, lebih mulia keluarga yang suaminya cuma mampu menafkahi dengan jumlah sedikit daripada yang engga sama sekali. Yang penting itu bukan tentang jumlahnya atau dari sumber mana si uang didapatkan, tapi dari tanggung jawab seseorang sebagai orang dewasa (dan dalam hal ini, sumber pemasukan juga). Makanya penting juga ketika menikah, suami istri harus membicarakan tentang financial arrangement-nya.
Intinya, kita harus belajar bagaimana menghasilkan uang. Mau jadi ibu rumah tangga sekalipun, suatu saat kalau suami engga ada, kita kan jadi engga bingung mau bayar listrik pakai uang dari mana.

        Keuangan Sehat
Percuma gaji kamu ratusan juta kalau kamu engga bisa nabung. Keuangan yang sehat itu, kalau kamu punya cukup tabungan untuk hidup 3 bulan ke depan. Maka dari itu menabunglah minimal 10% dari pemasukan kamu setiap bulan. Ada 3 tips menabung yang baik:
a.       Lakukan di depan
Setiap habis gajian, selalu langsung simpan uang tabungan. Kalau bisa auto-debet, maka lakukanlah. Jangan ditunda-tunda, nanti jadi tergoda!
b.      Buat rekening terpisah
Ini rekening yang isinya engga boleh diutak-atik. Kalau Ayah saya kasih tips, rekening buat menabung itu pakai yang ATM-nya jarang ditemui. Jadi mau menarik uang pun susah.
c.       Bertujuan
Saya sudah melakukan poin A dan B, tapi ternyata saya engga punya poin C ini. Saya benar-benar engga tahu uang yang saya simpan di rekening tabungan mau saya pergunakan untuk apa. Padahal punya tujuan dalam menabung sangat penting lho!
Ada 3 hal yang harus dituliskan saat kita ingin membuat tujuan: Judul – Jumlah Rupiah – Tahun. Kemarin di kelas kami diminta untuk menuliskan apa yang ingin kamu beli/lakukan di 18 Januari 2018. Engga apa-apa kok untuk menuliskan nilai saat ini dulu, yang penting kamu tahu apa tujuan kamu menabung. Apa yang saya tuliskan di kelas itu? Well, ada deh :p

 Property
Saya engga pernah kepikiran untuk punya property. Rasanya saya ini masih terlalu kecil lho untuk mulai memikirkan tentang property. Tapi kalau diingat umur saya sudah segini… harusnya sudah cukup dewasa untuk memikirkan property ya. Kenapa sih penting untuk punya property sendiri? Ya masa sih sampai tua kamu masih mau tinggal seatap sama orang tua? Punya property selain bisa untuk dipergunakan sendiri, bisa juga untuk dijadikan bisnis lagi. Atau yaa warisan buat anak kita deh.
Bagaimana kalau punya-nya tanah atau sawah atau perkebunan? Kalau kamu engga akan sering mengunjungi atau engga ngerti cara urusnya dan engga terbentur hukum adat atau waris, ya lebih baik dijual saja lah.

Investasi Rutin
Mulai lah untuk memikirkan dana pensiun dari sekarang.
“Lah baru kerja masa udah mikirin pensiun?”
Ya kan kita juga engga selamanya mampu menghasilkan uang secara aktif (baca: Kerja dan Bisnis). Engga ada salahnya kok menyisihkan beberapa persen dari pemasukan kita untuk berinvestasi.
Rumus mudahnya, kata Mbak Wina, adalah dengan menyisihkan setengah harga sepatu kamu. Misalnya harga sepatu saya 250.000 (Iya, saya anak Payless :p), maka saya harus investasi sebesar 125.000 setiap bulan ke reksadana saham terus menerus selama 30 tahun ke depan. Kalau masih di bawah usia 25 dan masih single, engga apa-apa kok mulai reksadana. Targetkan hasil investasi 15-20% per tahun.
Jujur, saya juga masih bingung dengan persoalan investasi ini. Tapi engga ada salahnya dicoba sih.

        Bersenang-senang!
Punya penghasilan tapi kalau engga pernah dipakai yaa percuma. Nanti jadi stres sendiri harus menyimpan uang terus. Jadi penting juga untuk menyisihkan pemasukan untuk bersenang-senang. Ini adalah bentuk menghargai diri sendiri juga lho.

---------------------------------------------------------------------------

Kalau bisa disimpulkan, menjadi orang dewasa berarti menjadi orang yang harus bisa punya penghasilan sendiri dan mampu mengatur finansialnya. Pemasukan kita, yang bisa datang dari mana saja tergantung rejeki masing-masing orang, harus dikelola dengan baik. Sisihkan untuk ditabung, berinvestasi, dan bersenang-senang.

“Kok engga ada bagian di mana kita harus berbagi ke orang lain?”
When we are stronger, we can be strong for others.
Engga, ini bukan berarti lo harus tajir banget dulu baru bisa menyumbang. Berbagi kepada orang lain itu harus. Sebuah pencapaian yang kerena banget lho kalau nilai sumbangan kamu bertambah setiap tahunnya dengan semakin besarnya nilai pemasukan kamu.

Dan lagi-lagi kita diingatkan untuk mulai dengan mencari apa tujuan dalam hidup dan mulai merancang detil-detil kecilnya. Financial planning is just one small detail.

Paling terkesan ketika Mbak Wina cerita tentang ambisinya untuk mengajarkan Melek Finansial. Kemarin Mbak Wina mengisi kelas mengenai cara merencanakan keuangan untuk kepentingan melanjutkan pendidikan kepada para guru dari berbagai daerah di Indonesia. Ternyata apa yang Mbak Wina ajarkan diteruskan lagi oleh para guru tersebut di daerah masing-masing. Terharu ketika para guru bersemangat untuk mengajarkan murid berani bermimpi melanjutkan sekolah tanpa harus takut terkendala biaya.

Overall, I really like the class. Sangat konkrit. Saya yang alergi dengan uang ini awalnya takut bosan dan engga paham. Tapi ternyata Mbak Wina membawakan dengan sangat seru.
Wish me luck on my financial planning ya!

Tuesday, January 10, 2017

Memulai 2017

First post in 2017. Happy new year!

Akhirnya 2016 selesai! Hahaha. Sebuah tahun yang kata 9gag, kalau bisa engga usah dibahas di sejarah deh. Terlalu banyak kejadian-kejadian yang membuat umat manusia speechless.

But, my 2016 wasn't that bad, tho. Ada beberapa resolusi yang berhasil saya capai. Saya engga nulis resolusi awal tahun saya di blog ini, tapi ternyata saya pernah tulis review resolusi tengah tahun saya di http://www.juliajasmine.com/2016/07/halo-juli-2016.html.

Let's review some of them:

Bachelor degree, hell yeah.

Able to keep learning and developing myself and other people.
Saya banyak belajar hal baru di setengah tahun ke belakang. Begitu pun dengan hobi mengajar saya. Semua masih bisa tersalurkan dengan baik. Saya bertemu banyak orang baru yang inspiratif dan satu pemikiran dengan saya.

A job (that I love yet still constantly challenge me).
Best part of it, I get paid for something I really love doing.

Surrounded by best friends for life.
Kata orang semakin tua umur kamu, circle kamu akan semakin kecil. Iya sih, and I'm happy I found them.

An all-year-long partner.
Currently grateful for this simple and happy relationship.

--------------------------------------------

Tahun udah berganti, dan yah, yang saya takutkan benar-benar udah di depan mata.
"Hidup lo udah engga ada semester-semesteran-nya lagi!"
JENG JENG. Saya beneran udah engga punya yang namanya semester ganjil, genap, liburan winter, summer, dll. Dunia orang dewasa beneran udah di depan mata. Karena itulah saya merasa harus lebih konkrit lagi dalam menentukan goal hidup di tahun ini dan juga tahun-tahun berikutnya.

So what's next for 2017?

Start eating healthy.
Kelas yang saya ikuti beberapa minggu lalu seakan menyadarkan saya bahwa makan itu untuk hidup, bukan hidup untuk makan! Well, saya mau coba untuk lebih banyak makan sayur dan buah dan mulai makan seimbang deh.

Start learn to cook simple dish.
Because, I need it.

Go find much challenging work.

Travel often.
2 cities/year. 1 country/year. Minimum.

Save some amount of money by the end of the year.

Spend more time with family.
I realize, the older I am, the less time I spend with my own family. I should plan a trip with them this year. Because, yeah, I can't start anything new if I don't fix this one.

Prepare myself into a committed relationship.
Because somehow I need to. Kalo kata orang, "Udah umur."


SOUNDS SCARY YET SO ADULT, YES?!?
I intentionally write it on my blog to see how this list goes by the half of the year. 
Wish me luck, guys!


Friday, December 9, 2016

Things I'll Do If I Get Back To Poland

I miss Poland! Very very much!

"From all the countries in Europe and you miss Poland? Why?"
Yeah, I know it's weird. But Warsaw, Poland is the very first city/country I've ever lived in for more than 2 weeks beside Jakarta (I was born and raised in Jakarta, duh). That was the first time I've ever lived by myself. It was the first time I experienced winter. I can still remember exactly how happy I am touching my first snow and feeling the real minus temperature. I miss showing off my super basic Polish. I miss being center of attention beacuse I'm small and wear hijab. I miss trying new food. It was just so unforgettable.

For those who wonder, I was in Poland on a purpose. I did a voluntary exchange for 2 months (January to February 2014) in Warsaw. I was in a project called Enter Your Future arranged by AIESEC in University of Warsaw. If you ask me where did I learn to present (in English) and handle a class, well thanks to this project. Every week I had to present about Indonesia to high school students around Warsaw and created a workshop at the end of the week. It was super challenging. But now, I miss it so muccchhhh!

Someday I plan to go back to Poland. And once I get there, here's the list I want to do:

Say Hi to My Hostfamily
I was living with hostfamily for about a week because the first school I gotta teach was 2 hours away from Central Warsaw. So expect the very big houses there, very big they look like the houses in movie. The family has 3 sons and 1 daughter, my favorite is the 3 year old cutie named Iwo! Aww, I miss playing puzzle with him. I guess he's in elementary school now. My  host parent also very very welcomed. They dropped us off to school, picked us up, took us to nice restaurants, OMG the best week everrrr! Wish I could go back there and give a warm gift from Indonesia to decorate their pretty house.

Catching Up with My Students
I sometime spent time talking with my students between classes. Wonder how are they doing right now. I hope all of you guys pass the MATURA exam and now studying in the major you love!

Have a Proper Photo in Old Town
I was wandering here alone. Too afraid to ask someone to take my pic. So I did a failed selfie. Well yeah...

Eat Pierogi, Salty Sticky; Yogurt, Super Big Kebab, Rice Milk, Wedel Chocolate, Tasty Ice Cream, Cheap Super Market Chicken Thighs, Polish-Tasty-Cake-I-Forgot-The-Name, Eat-in-School-Canteen-Because-I-Love-It-Don't-Judge-Me.

Meet ALL The OCs of Enter Your Future
The amazing guys who arranged the best project everrrr!!! I promise if I ever got back to Poland, I will make time to meet you; Emilia, Marek, Bogusia, Paulina, Natalia, Mateusz. I still really miss those last days I spend with you and how I can't hold my tears when I about to enter Polska Bus to go home. I can not thank you guys enough.

Visit Adventura, My Super Cozy Home for Two Months
Located in Franzscuka, this hostel is the coziest hostel I've ever been. If you go by the train, you can stop at Stadium Narodowy, cross the road and walk for about 10 minutes (20 minutes if it's super slippery). Adventure is on the right. After Franszcuka Cafe with a statue and in the same building with the post office on the right. (Wow I still remember!)
I really want to see Dominika and Bartek. Checking out how's my signature drawing in the wall (hopefully still there). Cooking something in the kitchen and enjoy the meal in dining/living room. And the only place I want to sleep is the biggest room there called Ocean Room, the upper bunk bed on the right. I hope I won't cry myself to sleep when I get there because I'm pretty sure it'll remind me of my girls roomie and the chit chat we did every night. I miss you guys so much.

Last but not the least, I hope we could have a reunion. 
Still waiting for you to come to Indonesia :)

Sunday, November 20, 2016

Satu Mobil, Dua Sudut Pandang

Postingan saya kali ini mungkin akan dicemooh beberapa pihak. Mungkin juga akan dikritik keras. Tapi yah, saya hanya ingin bercerita.
Sebelum cerita terlalu jauh, saya juga mau klarifikasi bahwa sejujurnya saya bukan anak yang alim alim banget. Masih banyak sekali akhlak dan ibadah saya yang harus diperbaiki. Pengalaman kuliah dan berbagai kegiatan kampus membuat saya menjadi orang yang yaah cukup toleran deh. Saya pernah bekerja/bermain dengan orang-orang dari beragam ras, suku, agama, usia, negara, dll. Jadi yaah menurut saya semua orang itu sama.

---------------------------------------------------------

Sore itu saya pulang dari Thamrin bersama teman saya. Kami memutuskan pesan mobil online karena sudah terlalu lelah untuk naik kereta. Saat membuka pintu mobil, di dalam sudah ada seorang ibu dan anaknya yang ternyata searah dengan kami. Baiklah.
Saya dan teman saya tipe yang senang mengobrol. Kebetulan, si ibu dan bapak supir juga tipe yang suka mengobrol. "Baguslah, perjalanan jadi engga sepi sepi amat", pikir saya.

Entah siapa yang pertama memulai obrolan, kami sampai pada topik '2 Desember ikut aksi damai lagi, engga?'

Buat yang belum tahu, 4 November lalu baru saja diadakan aksi damai oleh suatu kelompok agama. Saya salut sih bahwa di hari itu sama sekali tak ada berita rusuh. Jalanan bersih, polisi dan pelaku aksi damai semua rukun. Well, kita anggap saja kerusuhan malam hari itu memang kerja suatu oknum tak bertanggung jawab. 

Kembali ke topik pertanyaan, si ibu dan bapak supir ternyata menjawab dengan sangat pasti, "Tentu saja ikut dong!". Si bapak supir melanjutkan, "Kalau beneran muslim, pasti akan ikut aksi ini. Kita itu engga boleh diam saja ketika agama kita dilecehkan, dinistakan!". Si ibu juga engga kalah semangat bercerita, "Nanti tuh ya di tanggal 2 (Desember) itu, kata suami saya, akan ada solat jumat sepanjang jalan Thamrin. Duh saya mau banget ikut, tapi engga boleh sama suami. Jadi ya sudahlah, saya membela agama saya dengan cara memberi restu saja."

Saya berasumsi dalam hati, "Oh ternyata saya satu mobil dengan ibu dan bapak supir yang pandangannya berbeda dengan kami."
Saya pun whatsapp teman saya (tentu saja agar kami engga ketahuan si bapak supir dan ibu dong kalau kami oposisi :p):
"Di, ternyata kita satu mobil dengan bapak ibu yang beda pandangan dengan kita!"
"Iya nih, seru ya. Mau saya ajak ngobrol lebih dalam ah. Penasaran dengan sudut pandang lain."
"Duh dasar orang HR!"

Lalu mulai lah teman saya ini menggali lebih dalam.
"Terus bagaimana menurut bapak tentang kasus salah satu calon gubernur itu pak?
"Ini tuh masalah penistaan agama, Mas! Kita sebagai muslim engga bisa tinggal diam. Apalagi dia cina! Kalau dia batak atau apalah, saya masih engga apa-apa deh. Toh masih pribumi seperti kita. Tapi ini dia cina! Dari dulu tuh emang cina bukan bagian dari pribumi dan engga pernah mengakui dia pribumi. Maka karena itu si cagub ini HARUS dihukum!"

"Hoo, begitu. Tapi bener engga sih pak, kata media prestasi si cagub ini udah oke?"
Si ibu menyahut, "Bohong itu! Semua media sudah dikuasai kristen! Kita itu jangan mau diinjak-injak dengan kedok toleransi."

"Hoo jadi yang pembangunan masjid, musholla, dan bantuan haji itu sebenernya media aja ya bu?"
"Iya betul! Dulu tuh ya, saya juga anti sama namanya F*I. Tapi setelah sekali ikut pengajiannya, yaampun ternyata semua media itu bohong. Di daerah saya tuh F*I ini lah yang memediasi pembuatan masjid-masjid. Dulu tuh dilarang banget bikin masjid karena maraknya kristenisasi. Makanya pas kemarin mau dibuat gereja di daerah saya, kami larang."
"Kita itu harusnya bersyukur ada F*I. Kalo engga ada, duh mau jadi apa Jakarta ini?"

Tidak berapa lama, kami sampai ke tujuan. Si bapak dengan sangat sopan menurunkan kami sambil berkata, "Maaf ya Mas, Mbak, kalau kalau saya kesannya ceramah/marah. Tapi saya merasa engga bisa diam aja, Mbak dan Mas ini jangan sampai tersesat."

----------------------------------------------------

Jujur, saya speechless. Engga tau harus berkata apa. Well, lebih tepatnya takut ikutan berargumen di pembicaraan yang super intens tadi sih. Di saat bersamaan, saya juga merasa sedih.
Saya sangat sangat paham bahwa setiap orang itu unik. Setiap orang itu berbeda. Seseorang berada pada sudut pandangnya saat ini pasti karena adanya suatu proses/pengalaman. Dan pastinya bagaimana seseorang menghayati pengalamannya itu engga ada yang sama. Karena itulah saya sangat menghargai perbedaan. Saya sangat menghargai pendapat bapak supir dan ibu ini. Saya pun berusaha memahami mereka.

Tapi jujur, saya kaget banget saat mereka terang-terangan membawa suatu ras. Seriously? Engga ada argumen lain? Yang lebih, well, logis? Saya cukup paham kalau ada orang yang kurang cocok karena perbedaan value. Value itu sesuatu hal yang sebenarnya bisa dibentuk sepanjang hidup. Termasuk agama, budaya, tradisi, you name it lah. 
Tapi kalau ras? Duh emang saya bisa milih mau lahir dari rahim siapa? Ras itu sesuatu yang sifatnya mutlak, absolut, engga bisa diubah. Jadi menurut saya engga adil aja kalau ada orang benci dengan orang lain karena ras-nya. Ternyata di kota saya yang (katanya) metropolitan ini, masih ada ya orang rasis. Sekarang saya paham kenapa teman saya yang 'cina' se-ketakutan itu dengan adanya aksi damai kemarin. Karena ternyata masih ada beberapa orang yang menganggap teman saya ini bukanlah orang Indonesia. Oh well...

Mengenai kristenisasi media, saya engga mau berkomentar apa-apa sih. Karena saya pun juga sudah engga percaya dengan netralitas media. Pasti ada keberpihakannya. Dan saat ini sih saya memilih media yang satu pandangan dengan saya. Kebetulan juga circle saya di facebook hampir 70%-nya satu pemikiran dengan saya sih.
Bacaan dan circle pertemanan saya yang itu-itu aja membuat saya kurang percaya dengan organisasi yang diikuti si bapak supir dan ibu tadi. Ya saya percaya sih pasti organisasi ini juga berbuat baik. Dan kebetulan berita yang saya baca tentang mereka hanya yang buruk-buruk saja, yang kebetulan di-blow up media yang saya ikuti. I don't even want to try digging deeper on their organization. Saya cuma prihatin aja dengan pernyataan si ibu. Kalau dilarang bikin masjid, ya kenapa ngelarang orang bikin gereja? Takut kena brainwash kristenisasi, kenapa ikutan meng-islamisasi? Saya termasuk orang yang percaya bahwa urusan individu dengan Tuhannya itu urusan yang personal. Engga usahlah ikut campur. Kekuasaan Tuhan di alam semesta ini juga kayanya engga dipengaruhi oleh seberapa banyak pengikutnya.

---------------------------------------------------------

Call me apatis, sekuler, mata hati yang tertutup, you name it. Saya pun sedang belajar untuk lebih dapat menerima pandangan orang lain. Kalau kemarin engga ditahan teman saya, mungkin saya sudah diturunin di tengah jalan karena mulut saya yang pedas. Personally I feel grateful, having a chance to have a conversation with someone who has different perspective from me. I learned a lot.

Anyway, iya saya nulis ini memang pakai emosi. Sudah sumpek rasanya dengan isu-isu yang engga ada habisnya ini. Saya lebih value keharmonisan, kerukunan, toleransi antar umat beragama (ataupun yang tidak beragama), antar suku, antar ras, antar apapun perbedaan yang kita miliki.

Yuk ah, mari urusin diri sendiri dulu  
sebelum ngurusin orang lain.

Wednesday, November 16, 2016

Rewarding Myself: A Wireless Pointer

There's always first time for everything.

As for me, I just bought something online for the first time in forever!
Yes, I am that conventional, I am still skeptical on online shopping. What if the seller is fake? What if the package broken? What if the goods aren't as good as I expected? Too much anxiety.
But I must admit, everything is cheaper online and I don't have time to wander around shops to buy something. As in I'm not good at bargaining too...

But hey, today I just bought something online! And this is the thing I always want since forever. Guess what?

A WIRELESS POINTER!

Captured by @RizaNgrh, took him about 15mins because we're not that aesthetic

"Well, what so special from a wireless pointer?"
A LOT! As I always tell you, I am so into presentation thingy. Having a laptop that could connect to a projector is a must. And it is a plus point if you have a wireless pointer. You don't need to rely on someone clicking the slide on your presentation (admit it, saying 'next slide please' is pretty annoying). Moreover, you'll look super professional. Which is super important to enhance your face validity. HEHEHE.

"Well, why you just buy it now? You could buy it since long time ago when you're still in campus doing a lot training/presentation, don't you?"
Yes, I could. But I want to buy it from my first salary. It's a different feeling ya know.
Somehow, having this presentation kit, kinda giving me a pressure to use it.

Well, I HAVE TO USE IT! I already buy it.
I have to find a way to use it. Whether it's training, workshop, or anything.

This is just a beginning, a very first step, 
of many cool presentations I'll do in the future.

Wish me luckkkkk!!! :D
Attachments 

Monday, November 14, 2016

Kenapa Saya Memilih Kerja di Start Up

"Udah kerja, Min?"
Alhamdulillah, udah.

"Jadi, sekarang berkarya di perusahaan mana?"
Errr, di start up tuh.

"Oh gitu... Ngurusin HR-nya pasti ya."
Errr, salah lagi. Di sini saya marketing-nya tuh. Hehe.

"WHAT?!"

Ini bukan kali pertama orang kaget ketika saya ceritakan bahwa sekarang saya kerja di start up dan sebagai orang marketing. Kalau dilihat dari pengalaman magang dan organisasi, pasti dapat ditebak bahwa saya seorang HR corporate (banget!). Ibu, Ayah, teman-teman saya semuanya orang HR. Ibaratnya kalau ditanya, "Punya kenalan orang HR, engga?"; Saya akan jawab, "Mau yang dari perusahaan apa?". Hidup dikelilingi mereka semua pun, membuat ilmu HR saya (terutama recruitment) jadi lumayan oke lah.
Tapi sedikit yang tahu bahwa dari luasnya dunia HR, saya sangat mencintai dunia learning & development. Terutama career development.

----------------------------------------------------------------------------------

Jauh sebelum saya wisuda, saya sudah mengirim lamaran ke berbagai perusahaan. I did a full time job as a job seeker. Di folder CV saya, ada lebih dari 20 customized CV yang saya kirimkan ke lebih dari 20 perusahaan. Tentu saja hanya untuk posisi HR; baik officer, intern, maupun MT. Beberapa gagal, beberapa tidak ada kabar, beberapa sudah dipanggil untuk tes dan wawancara, bahkan ada yang sudah sampai di-offering.

Tetapi tiba-tiba saya sampai pada titik di mana saya mempertanyakan diri saya sendiri, "Why do I feel like I don't really want it?" Seakan tiba-tiba saat wawancara saya merasa ragu, engga 100%, dan kalau engga diterima pun yaudah saya biasa aja. I feel like there's something still missing.

Luckily I learn about career development. I realized I am still in exploration stage. Graduate doesn't mean you don't have space and time to explore. Justru ini saat yang sangat tepat untuk explore berbagai macam hal karena udah gak dibatasi waktu kuliah. Talking about living life as a funemployed!

Berbekal keinginan untuk eksplorasi, maka saya nekat memperkenalkan diri ke sebuah start up (yang bahkan engga lagi buka lowongan!). I was invited for a casual chit chat and here I am now working as a full time in Youthmanual.

"So, what do you really want to explore by working in start up?"
BANYAK BANGET! Saya sangat menyadari bahwa banyak sekali hal yang engga sempat saya pelajari semasa kuliah.

Belajar Bisnis
Saya kuliah psikologi yang selama 4 tahun didoktrin untuk menolong sesama.
Saya anak AIESEC yang selama 4 tahun didoktrin untuk mengubah dunia (atau minimal ngurusin member deh).
Jujur, jiwa sosial menolong sesama saya jadi terasah banget. Sebaliknya malah jiwa bisnis saya yang jadi super tumpul. Rasanya tuh kalau udah ketemu dengan angka atau uang jadi malesss banget. Padahal nih kalau dipikir-pikir, ketika nantinya akan kerja di corporate pun, saya harus paham bisnisnya secara keseluruhan kan. Jadi saya memutuskan untuk mulai mengasah kemampuan bisnis saya di start up yang 'baru lahir'. Di mana saya benar-benar dilibatkan ke segala hal mulai dari concepting, planning, executing, evaluating, dan lain-lain.

Mempertajam Marketing/Selling Skill
Kemarin saat di Coaching Class-nya Kampus Update, salah satu speaker-nya memberitahu bahwa skill yang cukup krusial yang harus dimiliki anak muda saat ini adalah marketing/selling. Awalnya saya mikir, "Lah orang HR kaya saya mah engga akan nyentuh ranah itu." Tapi ternyata salah! Kalau kata career coach saya, bisa 'jualan' itu penting. Ya minimal 'jualan diri' kita sendiri lah ke orang lain deh. Ketika kita bisa mempromosikan, mem-branding, menjual sesuatu, maka akan banyak opportunity yang bisa kita dapatkan.
Saya nyesel banget engga belajar jualan sejak dini. Karena itulah, saya nekad belajar sekaligus kerja di start up sebagai orang marketing. Benar-benar mulai dari nol deh saking butanya saya di dunia marketing. Untung produknya kantor saya tuh 'Gue Banget', jadi yaa saat jualan pun bisa lebih menjiwai deh hehe.

Belajar Memahami Diri Saya Sendiri
Saya selalu memproklamirkan bahwa saya suka dengan dunia karier. Tapi lama kelamaan timbul banyak sekali pertanyaan untuk diri saya sendiri:
"Ini saya beneran suka dengan dunia karier atau hanya kesukaan sesaat?"
"Perkembangan karier individu itu luas banget. Saya sukanya ngurusin yang tahapan mana ya?"
JENG JENG! Akibat terusik oleh kedua pertanyaan itulah maka saya memutuskan bekerja di Youthmanual. Youthmanual adalah paltform persiapan kuliah dan karier khusus untuk anak muda. Di sini kita bercita-cita membantu anak muda mengenali dirinya dan merancang masa depannya, dimulai dari memilih jurusan kuliah yang sesuai dengan diri sendiri. Selengkapnya bisa dibaca di youthmanual.com. Saya menyadari dengan berada di sini, saya bisa eksplor dunia karier remaja dan membuktikan kepada diri sendiri mengenai sesuka apa sih saya dengan dunia karier?

----------------------------------------------------------------------------------

"How do you feel, Min?"

I must admit, I struggle A LOT in these past few months. Bohong kalau saya bilang saya engga capek. Capek banget! Saya benar-benar harus belajar banyak hal. Engga cuma bisnis dan marketing, tapi juga etika kerja, networking, koordinasi team, bahkan sesederhana balas email! Saya kira selama ini pengalaman magang dan organisasi saya sudah cukup membuat saya siap kerja. Tapi ternyata masih banyaaak banget yang harus saya mulai dari nol.
But, what doesn't kill me makes me stronger. Semakin saya tercemplung ke dunia ini, semakin saya suka dan penasaran dengan pendidikan karier. Beruntung saya selalu dibimbing langsung (baca: di-feedback setiap hari) oleh teman-teman kantor saya. Beruntung saya selalu diberi kesempatan untuk mencoba. 

To conclude, 
I believe this is a good start for my own career development.

J Jasmine - career development enthusiast


Doakan saya ya, gengs!