Skip to main content

Posts

3++ Role Model dalam Hidup Saya

Bulan lalu saya diberi kesempatan untuk sharing ke sejumlah audiens usia SMA dan kuliah tentang perencanaan karier. Hehe kayaknya sebentar lagi saya diamuk massa karena topik tulisan blog saya karierrrrr mulu. Mohon maap ya, soalnya sejak jaman kuliah sampai setahun bekerja ini, tiap hari saya ngurusinnya karier~
Anyway, postingan kali ini bukan tentang materi yang saya bawakan di workshop bulan lalu kok. Saya mau share hal lain.
Kalau dihitung sejak ambil mata kuliah pendidikan karier, berarti sudah hampir 3 tahun saya berkutat di dunia merancang masa depan ini. Dari berbagai seminar, kuliah, workshop, sampai diskusi yang saya lakukan baik di kampus, kantor, ataupun beragam kesempatan; saya baru menyadari suatu benang merah yang ternyata penting banget ketika kita sedang merancang apapun dalam hidup kita: MEMILIKI TUJUAN.
Aha moment ini baru saya dapatkan ketika membuat materi di workshop tersebut.  Lah kemana aja ya gue? Sekarang inget-inget deh, misalnya kita lagi bikin acara, bikin…
Recent posts

Memulai 2018

Errr, a year passed already?
Seperti biasa, setiap awal dan akhir tahun saya selalu melakukan refleksi akhir tahun dan menulis resolusi di tahun yang baru. Kalau kata orang-orang, “Ah percuma, paling bulan depan udah lupa dengan resolusi awal tahunnya lagi!” Oh well, menulis resolusi adalah satu-satunya cara saya keeping track dengan hidup saya. Jika tercapai, bisa membuat saya semangat karena telah mengalahkan diri sendiri. Jika belum tercapai, bisa menjadi bahan evaluasi saya untuk tahun berikutnya. Nah kalau sebelumnya tiap poin refleksi & resolusi saya scattered banget, di 2017 kemarin saya diajarkan untuk membagi hidup jadi 4 aspek. Jadi sekarang saya mau mencoba berefleksi dan membuat resolusi di keempat aspek tersebut.
HIGHLIGHTS OF MY 2017
HEALTH
Yeay, akhirnya saya berhasil jaga porsi makan!
Di 2016 tuh rasanya badan saya lebar banget. Nah di 2017 ini senang sekali dibilang kurusan oleh banyak orang. Saya engga ada program diet atau semacamnya, hanya mengurangi porsi nasi da…

#MeToo: Cerita Therapist Saya

Saya ini orangnya suka banget pijat. Bahkan pijat yang levelnya mbok mbok gitu loh.
Saking cintanya dipijat, saya selalu mengalokasikan biaya pijat setiap bulannya. Dulu saya biasa ke spa atau tempat pijat, tapi sekarang enggak lagi sejak ada Go Massage. Sungguh, inovasi Go Massage ini adalah penemuan terhebat abad 21 setelah internet sih. Saya bisa pijat super enak tanpa perlu keluar rumah sedikit pun.
Seperti biasa, kemarin saya pesan Go Massage lagi. Tapi enggak seperti pijat-pijat sebelumnya, ada cerita menarik yang diceritakan therapist saya.
"Kemarin teman saya ada yang ditodong pistol Mbak." "Hah?! Maksudnya ditodong pistol? Memang kenapa??" "Iya, Mbak dia diancam oleh customer."
Kejadiannya di daerah perumahan di Depok 2 hari lalu. Siang itu Mbak X, yang merupakan teman dari therapist saya ini, mendapat order massage dari Mas Y. Tempatnya di sebuah ruko. Terlihat normal saja seperti ruangan tidur pada umumnya. Mbak X memijat seperti biasa selama 2 j…

Puasa Media Sosial

Saat nulis ini, saya lagi terjebak macet hampir 5 jam di jalanan antara Pekanbaru-Duri. Yesh, NO INTERNET CONNECTION AT ALL. So here I am writing my long postponed thought.
Di tengah kemacetan tanpa internet ini saya merasa sedikit sakau. On-Off Airplane mode, berharap ada secercah sinyal. Buka instagram, buka twitter, buka facebook, buka path, buka line, buka whatsapp; berharap ada feeds baru yang muncul. Ternyata enggak ada samsek. Baiklah.
Saya mulai merasa adiksi saya ke media sosial ini makin hari makin parah. Awalnya saya buka media sosial untuk membuat saya melepas stres. Cari meme lucu, lihat foto aesthetic, browsing berbagai hal tentang disney, dll. Tapi kok ya makin kesini, setelah buka media sosial rasanya saya makin stres. Banyak twitwar, hoax merajalela, hate-speech, nyinyir, and oh even seeing somebody happy posts envy me a lot.
Surprisingly, bukan cuma saya yang ngerasa jenuh dengan media sosial!  Teman saya, Emil (@emiliats), adalah yang pertama saya notice. Ia memutuskan …

Kapan (Siap) Nikah?

Sebuah Pertanyaan
Saat ini umur saya 23 tahun. Alhamdulillah, sudah lulus kuliah dan sudah punya penghasilan sendiri.
Pasti sudah bisa ditebak dong apa pertanyaan orang sekitar pada umumnya?

"Kapan nikah?"

Yakin banget, saya bukan satu-satunya orang yang sering dapat pertanyaan seperti ini.
Kamu yang baca tulisan ini pasti udah sering ditanya hal yang sama. Jawaban kamu apa?
'Mau S2 dulu'?
'Jodohnya belom ada.'
'Ngumpulin uang dulu.'
dll, dsb, dst.

Buat saya pribadi ini bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Growing up as a teenager in a broken home family, tanpa sadar membuat saya agak sulit untuk memulai hubungan romantis dengan seseorang. I have a lot of guy friends. Easy for me to make new friends. But when it comes to a romantic relationship, I could take months to finally say 'Ok, let's be a couple!'.
Ini baru pacaran. Kebayang engga, kalau saya mulai memasuki fase 'jenjang berikutnya'?

Kadang saya kepikiran. Misalkan uang…