Skip to main content

#MeToo: Cerita Therapist Saya


Saya ini orangnya suka banget pijat. Bahkan pijat yang levelnya mbok mbok gitu loh.
Saking cintanya dipijat, saya selalu mengalokasikan biaya pijat setiap bulannya.
Dulu saya biasa ke spa atau tempat pijat, tapi sekarang enggak lagi sejak ada Go Massage. Sungguh, inovasi Go Massage ini adalah penemuan terhebat abad 21 setelah internet sih. Saya bisa pijat super enak tanpa perlu keluar rumah sedikit pun.

Seperti biasa, kemarin saya pesan Go Massage lagi. Tapi enggak seperti pijat-pijat sebelumnya, ada cerita menarik yang diceritakan therapist saya.

"Kemarin teman saya ada yang ditodong pistol Mbak."
"Hah?! Maksudnya ditodong pistol? Memang kenapa??"
"Iya, Mbak dia diancam oleh customer."

Kejadiannya di daerah perumahan di Depok 2 hari lalu. Siang itu Mbak X, yang merupakan teman dari therapist saya ini, mendapat order massage dari Mas Y. Tempatnya di sebuah ruko. Terlihat normal saja seperti ruangan tidur pada umumnya. Mbak X memijat seperti biasa selama 2 jam.

"Selesai memijat, teman saya membuka aplikasi dan menekan tombol selesai. Nah baru di sini deh kelihatan aslinya..."
"Ada apa?"
"Mas Y meminta Mbak X membuka bajunya!"

Mbak X yang saat itu ingin pulang ditahan oleh Mas Y. Ia dipaksa untuk membuka bajunya. Tentu aja Mbak X enggak mau. Namun Mas Y ini terus memaksa, bahkan sampai mencoba menarik baju Mbak X berkali-kali.

"Hah?! Yang bener aja Bu? Dia mau memperkosa temen ibu?"
"Enggak cuma itu, si Mas Y ini tiba-tiba menodongkan pistol ke teman saya. Dia mengancam akan membunuh teman saya."

Ketika saya kira perbuatan menarik paksa baju itu sudah parah, ternyata si Mas Y ini sampai menodongkan pistol ke kepala Mbak X. Dia dengan angkuhnya berkoar bahwa dirinya seorang asisten jagoan yang disegani di suatu daerah di Jakarta. Gilanya lagi, setiap therapist yang ia order pernah dicabuli. Dia bahkan menyebutkan satu persatu nama therapistnya. GILA!

"Lalu teman ibu bagaimana?"
"Dia lebih memilih mati Mbak daripada nyerah ke Mas itu."
"Sekarang dia aman?"
"Alhamdulillah Mbak, aman. Dia coba menghubungi saya tapi saya saat itu sedang di jalan. Akhirnya si Mas itu menyerah dan teman saya berhasil keluar. Kata dia, enggak dibayar enggak apa. Kasian Mbak, baru punya bayi."

Saya speechless.

Memang pijat memijat suka identik dengan sex. Berdasarkan cerita therapist saya, memang ada beberapa therapist yang juga 'nakal'. Menawarkan layanan plus plus, ataupun bersedia ditiduri apabila dibayar lebih. Therapist saya juga pernah ditawari untuk dibayar lebih. Mengetahui praktik seperti ini, dikabarkan pihak Go Massage punya tim satgas sendiri yang akan langsung me-non aktifkan therapist yang ketahuan memberikan layanan lebih.

Namun lebih banyak lagi therapist yang memang murni mencari nafkah.
Kebayang enggak sih, kamu pergi kerja untuk beberapa ratus ribu tapi malah mendapatkan pelecehan seksual? Go Massage sebenarnya mempunyai sistem untuk mencegah pelecehan seksual ini. Aplikasi para therapist dilengkapi dengan tombol darurat yang dapat mengirimkan peta lokasi kejadian, sehingga bisa datang pertolongan. Namun sayangnya, tombol ini hanya muncul saat order sedang berjalan. Ketika menekan tombol order 'Selesai', tombol darurat ini tidak akan muncul lagi.
Nah, si Mas Y tahu betul mengenai hal ini. Karena itu dirinya mulai berbuat jahat saat si Mbak X menyelesaikan order.

Saya marah banget saat mendengar cerita ini. Saya langsung post cerita ini di Instagram Story saya. Beruntung, ada salah satu teman saya @ujanjan yang baca ini dan menghubungi temannya di Gojek. Saya salut dengan betapa tanggapnya tim Gojek ini. Therapist saya langsung dihubungi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Saya dapat kabar bahwa customer tersebut sedang dilacak agar tidak terjadi hal serupa. Bahkan saya pun ditelepon langsung oleh tim Go Massage.

Saya dijelaskan bahwa Go Massage punya prosedur apabila ada kejadian seperti ini, therapist bisa langsung lapor ke Customer Care Go Massage ataupun grup WhatsApp. Setelah itu saya juga diminta untuk hapus post saya di social media. See how powerful social media is?

-------------------------------------------

Anyway, I choose not to delete the posts.
(Sorry Go Massage team. Enggak bermaksud menjelekkan kok. Saya tetap akan pakai Go Massage tiap bulan.)
Saya tetap simpan postingan ini dan bahkan menuliskannya di blog pribadi karena saya ingin semua orang paham: Sexual harassment bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan ke siapa saja.

"Ya harusnya si therapist jangan terima order dari lawan jenis dong"

Kalau komentar kamu seperti itu berarti kamu menyalahkan korbannya. Seriously?
Therapist ini hanya mencari nafkah. Mencari rejeki buat makan keluarganya di rumah. Dia juga enggak minta kok untuk dicabuli. Yang harusnya dibenahi itu otak dan nafsunya di pelaku. Kalau pelaku memang enggak bisa tahan nafsu, ya ke tempat prostitusi langsung aja. Masa beraninya sama therapist yang datang ke rumah sendiri?

And this goes for both men & women. Saya takutnya ya, kasus seperti ini terjadi enggak hanya pada therapist perempuan, tetapi juga therapist laki-laki. Dan, yah, you know, banyak laki-laki yang enggak cerita bahwa dia mengalami sexual harassment karena takut dicap lemah.
No, menurut saya, semua perbuatan dapa dikategorikan sexual harassment apabila tidak ada will & consent dari kedua belah pihak. Enggak memandang dia perempuan atau laki-laki.

Sebenarnya dari Go Massage sendiri sudah baik karena tanggap terhadap laporan pelecehan. Tapi kita juga harus ingat, pengalaman ini traumatik dan membuat orang enggak semudah itu untuk cerita.
Kebetulan akhir-akhir ini di social media saya banyak berseliweran kampanye #MeToo. Kampanye ini berisi cerita orang-orang yang pernah mengalami sexual harassment. Saya baca beberapa cerita teman dekat saya dan ada satu hal yang sama dari cerita-cerita mereka: Mereka bungkam.
Kejadiannya terjadi begitu cepat dan/atau mengerikan sampai rasanya otak masih butuh waktu untuk mencerna. Banyak juga yang merasa denial dengan apa yang baru saja dialami. I think I got that feeling a bit.

My #MeToo
Saya pernah jadi korban sexual harassment di angkot sepulang sekolah saat masih SMP. Saya dan kedua teman saya duduk di pojok berhadapan. Kami sedang asyik mengobrol dan tanpa sadar seorang kuli bangunan duduk merapat ke saya dan mulai meraba paha saya. Kedua teman saya sadar. Saya pun merasakan. Tetapi kami diam.
Rasanya sangat sulit untuk menerima kenyataan bahwa seseorang sedang berbuat jahat pada saya. Sepuluh menit yang rasanya sangat lama bagi saya. Saya ingin menangis. Saya tahu bahwa semua orang melihat kejadian ini, tapi tidak ada yang berbuat apa-apa. Saya juga tidak berani teriak karena angkot dalam keadaan sepi. Yang mengerikannya lagi, si kuli bangunan ini juga ikutan nimbrung obrolan kita seakan sedang tidak melakukan apa-apa.
Merasa sangat kesal, saya memutuskan turun di tengah jalan dan berteriak kepada kuli tersebut, "TANGANNYA YANG SOPAN YA, BR*NGS*K!"
I took me several days to recover. Bahkan pelecehan seperti itu sudah cukup membuat saya stres. Kebayang enggak sih perasaan Mbak therapist yang bahkan sampai hampir meregang nyawa?



-------------------------------------------
Enough preaching. Sexual harassment is real.
We need to be loud to educate people around us. Or at least, be there for them.

Comments

Passerby's Favorites