Sunday, January 22, 2017

Belajar Atur Uang Seperti Orang Dewasa

Postingan ini dibuat karena di malam minggu kemarin saya di-chat teman saya, Emil.

"Min"
"Apa"
"Mana"
"Mana apa"
"Katanya lo mau cerita tentang financial planning"
(terus saya read doang)

LOL.
Jadi minggu lalu saya ikutan kelas tentang Financial Planning yang diadakan Limitless Campus. (Saya akan buat postingan sendiri tentang Limitless Campus ini, tapi nanti. Sekarang kalau kepo, cek aja dulu instagram-nya Limitless Campus yang aesthetic di sini @LimitlessCampus). Kelas hari itu bahas tentang 'How to Find Your Financial Purpose' dan dibawakan langsung oleh Mbak (atau Teteh?!) Ligwina Hananto. Saya excited banget! Udah sejak lama saya tahu nama Mbak Wina ini di dunia mengatur keuangan. Teman dekat saya sudah baca bukunya, mengamini seluruh tulisan Mbak Wina dan mencoba menerapkan si isi buku. Kapan lagi bisa dengar langsung ‘kuliah’ dari pakarnya?

Teh Wina (kanan) orang pertama yang saya lihat ngomongin uang tapi seru

Di post ini saya mencoba menuliskan kembali apa saja yang saya dapat selama 2 jam sesi bersama Mbak Wina. Awalnya sih mau saya tweet aja, tapi kok ya tetiba teringat blog yang belum diisi apa-apa di Januari ini. So here it is:

Sesi dimulai dengan cerita dan gaya ceplas ceplos dari Mbak Wina. Ceritanya tentang dirinya, pertemuan dengan suaminya, menikah, pindah rumah, adaptasi gaya hidup, punya anak, dan banyak lagi. Seru!
Lalu tiba-tiba muncul slide mengenai hal-hal apa saja yang lingkungan dikte-kan kepada kita, dewasa muda, sebelum berusia 30 tahun:
Lulus kuliah (kalau bisa sih, S2). Karier bagus. Menikah. Punya rumah. Punya anak. Punya bisnis sendiri.
JENG JENG. Banyak banget yaa. Kalau dipikir-pikir, sekarang aja saya sudah berumur 23. Berarti saya hanya punya waktu 7 tahun untuk memenuhi ‘tuntutan’ masyarakat agar bisa dikategorikan sukses. Seriously?

No. You are designing you own life.
Engga usah lah dengerin apa yang orang sekitar suruh kita. Yang menjalani hidup kan kita sendiri. Dari berbagai aspek tadi, pasti ada yang ingin kita wujudkan duluan, ada yang belakangan. Engga ada benar, engga ada salah. Semua itu kamu yang atur.

Before you reach 30, it’s about developing yourself.

Developing di sini bisa diartikan sendiri dalam berbagai aspek. Engga harus akademis, bisa juga mengembangkan pengalaman, asmara, apapun. Ya mungkin kita engga bisa mencapai semuanya sebelum usia 30. Tapi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab, ada hal-hal yang harus kita siapkan sebelum menginjak usia 30 dong.

Menghasilkan Uang
Ada 3 cara di mana kamu bisa menghasilkan uang: Kerja, Bisnis, atau Punya aset yang menghasilkan. Dan, jangan bergantung pada 1 sumber pemasukan saja!
“Waduh Mbak, what if, I don’t like and I know I’m not really good at doing business? I’m pretty much okay if I have to work for someone in my entire life.”
Yaudah, engga apa-apa. Tiap orang punya pintu rejekinya masing-masing kok.
Mbak Wina cerita bahwa dirinya paling sebel dengan so-called-motivator yang menyuruh jadi entrepreneur. Jadi karyawan ataupun punya bisnis sendiri itu sama mulia-nya lho. Mbak Wina banyak cerita tentang kasus klien-kliennya. Ada pasangan yang suaminya sudah belasan tahun berjuang dalam berbisnis, tapi masih saja belum bisa menafkahi keluarga. Ada juga pasangan yang suaminya seorang PNS dan hanya mampu memberi sedikit uang setiap bulannya. Menurut dia, lebih mulia keluarga yang suaminya cuma mampu menafkahi dengan jumlah sedikit daripada yang engga sama sekali. Yang penting itu bukan tentang jumlahnya atau dari sumber mana si uang didapatkan, tapi dari tanggung jawab seseorang sebagai orang dewasa (dan dalam hal ini, sumber pemasukan juga). Makanya penting juga ketika menikah, suami istri harus membicarakan tentang financial arrangement-nya.
Intinya, kita harus belajar bagaimana menghasilkan uang. Mau jadi ibu rumah tangga sekalipun, suatu saat kalau suami engga ada, kita kan jadi engga bingung mau bayar listrik pakai uang dari mana.

        Keuangan Sehat
Percuma gaji kamu ratusan juta kalau kamu engga bisa nabung. Keuangan yang sehat itu, kalau kamu punya cukup tabungan untuk hidup 3 bulan ke depan. Maka dari itu menabunglah minimal 10% dari pemasukan kamu setiap bulan. Ada 3 tips menabung yang baik:
a.       Lakukan di depan
Setiap habis gajian, selalu langsung simpan uang tabungan. Kalau bisa auto-debet, maka lakukanlah. Jangan ditunda-tunda, nanti jadi tergoda!
b.      Buat rekening terpisah
Ini rekening yang isinya engga boleh diutak-atik. Kalau Ayah saya kasih tips, rekening buat menabung itu pakai yang ATM-nya jarang ditemui. Jadi mau menarik uang pun susah.
c.       Bertujuan
Saya sudah melakukan poin A dan B, tapi ternyata saya engga punya poin C ini. Saya benar-benar engga tahu uang yang saya simpan di rekening tabungan mau saya pergunakan untuk apa. Padahal punya tujuan dalam menabung sangat penting lho!
Ada 3 hal yang harus dituliskan saat kita ingin membuat tujuan: Judul – Jumlah Rupiah – Tahun. Kemarin di kelas kami diminta untuk menuliskan apa yang ingin kamu beli/lakukan di 18 Januari 2018. Engga apa-apa kok untuk menuliskan nilai saat ini dulu, yang penting kamu tahu apa tujuan kamu menabung. Apa yang saya tuliskan di kelas itu? Well, ada deh :p

 Property
Saya engga pernah kepikiran untuk punya property. Rasanya saya ini masih terlalu kecil lho untuk mulai memikirkan tentang property. Tapi kalau diingat umur saya sudah segini… harusnya sudah cukup dewasa untuk memikirkan property ya. Kenapa sih penting untuk punya property sendiri? Ya masa sih sampai tua kamu masih mau tinggal seatap sama orang tua? Punya property selain bisa untuk dipergunakan sendiri, bisa juga untuk dijadikan bisnis lagi. Atau yaa warisan buat anak kita deh.
Bagaimana kalau punya-nya tanah atau sawah atau perkebunan? Kalau kamu engga akan sering mengunjungi atau engga ngerti cara urusnya dan engga terbentur hukum adat atau waris, ya lebih baik dijual saja lah.

Investasi Rutin
Mulai lah untuk memikirkan dana pensiun dari sekarang.
“Lah baru kerja masa udah mikirin pensiun?”
Ya kan kita juga engga selamanya mampu menghasilkan uang secara aktif (baca: Kerja dan Bisnis). Engga ada salahnya kok menyisihkan beberapa persen dari pemasukan kita untuk berinvestasi.
Rumus mudahnya, kata Mbak Wina, adalah dengan menyisihkan setengah harga sepatu kamu. Misalnya harga sepatu saya 250.000 (Iya, saya anak Payless :p), maka saya harus investasi sebesar 125.000 setiap bulan ke reksadana saham terus menerus selama 30 tahun ke depan. Kalau masih di bawah usia 25 dan masih single, engga apa-apa kok mulai reksadana. Targetkan hasil investasi 15-20% per tahun.
Jujur, saya juga masih bingung dengan persoalan investasi ini. Tapi engga ada salahnya dicoba sih.

        Bersenang-senang!
Punya penghasilan tapi kalau engga pernah dipakai yaa percuma. Nanti jadi stres sendiri harus menyimpan uang terus. Jadi penting juga untuk menyisihkan pemasukan untuk bersenang-senang. Ini adalah bentuk menghargai diri sendiri juga lho.

---------------------------------------------------------------------------

Kalau bisa disimpulkan, menjadi orang dewasa berarti menjadi orang yang harus bisa punya penghasilan sendiri dan mampu mengatur finansialnya. Pemasukan kita, yang bisa datang dari mana saja tergantung rejeki masing-masing orang, harus dikelola dengan baik. Sisihkan untuk ditabung, berinvestasi, dan bersenang-senang.

“Kok engga ada bagian di mana kita harus berbagi ke orang lain?”
When we are stronger, we can be strong for others.
Engga, ini bukan berarti lo harus tajir banget dulu baru bisa menyumbang. Berbagi kepada orang lain itu harus. Sebuah pencapaian yang kerena banget lho kalau nilai sumbangan kamu bertambah setiap tahunnya dengan semakin besarnya nilai pemasukan kamu.

Dan lagi-lagi kita diingatkan untuk mulai dengan mencari apa tujuan dalam hidup dan mulai merancang detil-detil kecilnya. Financial planning is just one small detail.

Paling terkesan ketika Mbak Wina cerita tentang ambisinya untuk mengajarkan Melek Finansial. Kemarin Mbak Wina mengisi kelas mengenai cara merencanakan keuangan untuk kepentingan melanjutkan pendidikan kepada para guru dari berbagai daerah di Indonesia. Ternyata apa yang Mbak Wina ajarkan diteruskan lagi oleh para guru tersebut di daerah masing-masing. Terharu ketika para guru bersemangat untuk mengajarkan murid berani bermimpi melanjutkan sekolah tanpa harus takut terkendala biaya.

Overall, I really like the class. Sangat konkrit. Saya yang alergi dengan uang ini awalnya takut bosan dan engga paham. Tapi ternyata Mbak Wina membawakan dengan sangat seru.
Wish me luck on my financial planning ya!

3 comments:

  1. MBAK KENAPA tampilan blognya gak di ubah aja biar lebih enak di lihat?
    gmna kalau saya buatin template buat embak yang cakep hehehe?

    kalau mbak mau hubungin email aku aja: teukufajrul@ymail.com

    ReplyDelete
  2. artikel singkat yang seru...
    jadi bikin inget punya buku ladwina yg belum kebaca
    ijin bookmark blognya ya min....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Hafidullah!
      Terima kasih! Hehe saya juga sebenernya belom pernah baca bukunya. But surely will buy one after this class.

      Delete