Thursday, September 1, 2016

How To Be #Funemployed

For those who don't know, I've just officially graduated last Friday (lyk, finally!)

Semua terasa menyenangkan sampai tiba-tiba beberapa teman curhat ke saya.
"Min, pagi ini gue bangun dan tetiba kepikiran -- now what?"
"Ne ternyata gini ya rasanya jadi pengangguran."

Iya, saya satu dari (mungkin) ribuan wisudawan UI yang belum dapat pekerjaan tetap.
Tapi saya menolak bila dibilang menganggur. Menganggur menurut saya suatu kondisi di mana saya tidak mengerjakan apa-apa.

"Min lo menikmati masa-masa (sudah wisuda tapi belum dapat kerja) gini enggak sih?"

YES! Never know having gap months are not this bad.
Iya, saya akui, dulu salah satu ambisi saya adalah langsung kerja setelah wisuda. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, memang saya beneran mau langsung kerja ya? So here I am being #funemployed for about 3 months (terhitung sejak saya beres seluruh berkas kelengkapan kelulusan yaitu di akhir Juni).

#Funemployed adalah sebuah term yang saya buat untuk menggambarkan bahwa saya belum punya pekerjaan tetap, tapi bukan hanya berdiam diri di rumah, saya memilih untuk menyibukkan diri dengan banyak kegiatan. Tidak semua kegiatan yang saya lakukan sebagai #funemployed menghasilkan uang sih (yes, I'm broke, like super broke). Itulah mengapa kegiatan yang saya pilih sebagai #funemployed ini haruslah ada value added untuk self-development saya sebagai investasi di kemudian hari.

Setelah mengobrol dengan banyak sekali orang, sebenarnya ada beberapa kegiatan fun yang bisa dilakukan selama kita berstatus #funemployed.

Ikutan proyek dosen.
Dosen tuh sebenarnya butuh banyak banget tenaga buat bantu-bantu penelitiannya. Caranya ya bisa dengan approach dosen yang punya minat sama dengan kita ataupun melanjutkan penelitian yang masih tanggung di skripsi kita kemarin. Ini yang beberapa teman saya lakukan dengan dosen pembimbing skripsi mereka. Ini lumayan banget lho, selain membuat otak tetap terasah, bangun networking dengan pakar, dan dapat pengalaman baru; dana penelitian itu ternyata lumayan untuk menghidupi diri sendiri dalam beberapa bulan ke depan.

Kirim tulisan ke conference atau summit.
Saya juga sejujurnya bukan anak akademis, tapi dosen pembimbing saya mengikut sertakan saya ke sebuah conference. Ini yang membuat saya hampir tiap hari ke kampus di bulan Agustus dan September nanti. Jadi saya belum ngerasain tuh yang namanya kangen kampus haha. Beberapa teman saya justru lebih hebat lagi, skripsi mereka sampai diikut sertakan di luar negeri. Jadi sekarang nama mereka sudah ada di jurnal internasional juga. Setelah dipikir-pikir, ya benar juga sih. Udah capek-capek nulis skripsi yang berlembar-lembar itu, masa dipendam aja di perpustakaan?

Berbisnis kecil-kecilan.
Saya perhatikan beberapa teman saya mulai mengaktifkan lagi bisnis-bisnis kreatifnya. Ada yang buat clothing line, jualan bunga-bunga buat wisuda, ataupun pernak-pernik lucu, sampai pulsa. Lumayan kan punya hobi sekaligus sumber uang jajan?

Jadi intern/associate/freelance.
Ini buat yang masih males kerja dengan jadwal ketat tapi sangat butuh pemasukan haha. Sering kan lihat open recruitment internship tapi yang butuh 6 bulan full time ataupun proyek-proyek seru yang enggak bisa diikuti karena terbentur jadwal kuliah? Nah sekarang saat yang tepat untuk apply di posisi-posisi tersebut. Di masa-masa setelah wisuda ini saingannya lebih sedikit karena anak kuliah udah mulai masuk kuliah dan para wisudawan biasanya cari kerja tetap. Tapi enggak ada salahnya untuk memulai karir dari posisi intern/associate dulu lho. Kalau performa kita bagus, bukan enggak mungkin akan diangkat jadi karyawan tetap.

Join komunitas-komunitas seru.
Dulu saat masih jadi mahasiswa, waktu kamu pasti banyak dihabiskan dengan kerja kelompok. Yah jangankan kumpul komunitas, untuk cari komunitasnya saja pasti enggak sempat. Sekarang dengan waktu yang cukup banyak, saya mencoba cari-cari berbagai komunitas yang sepertinya asik buat di-eksplor lebih lanjut. Kenalan dengan orang dalam komunitas itu asik karena kita bisa cepat akrab dengan orang-orang yang satu minat dengan kita. Siapa tau, dari situ juga bisa dapat info lowongan kerja kan?

Belajar skill baru.
Kemarin saya ditantang seorang teman baik saya, "Yuk kita berlomba banyak-banyakan skill baru setiap tahun!". Hmm menarik.
Skill di sini bisa beragam. Mulai dari komputer, belajar bahasa baru, bermusik, memasak, ber-make up atau apapun! Kalau dipikir-pikir, seru juga sih bisa menguasai suatu hal baru. Kalau nantinya enggak menghasilkan uang, kan bisa juga untuk bertahan hidup sehari-hari. Karena akui saja, di masa setelah pendidikan formal gini bawaannya pasti males buat belajar hal baru. Padahal belajar itu enggak harus sesuatu yang ilmiah dan di kelas kan.

Jalan-jalan.
Saya pernah mengobrol dengan banyak orang yang memilih untuk melakukan perjalanan panjang setelah wisuda. Alasannya simpel, nanti kalau sudah kerja, sudah enggak ada waktu sebebas sekarang lagi untuk menikmati dunia. Jalan-jalannya beragam, mulai dari ke suatu pulau, keliling ASEAN, hingga keliling dunia. Saya paham sih karena saya juga tipe yang suka jalan-jalan. Mungkin terlihat seperti buang-buang uang, tapi percayalah pengalaman yang kamu dapat dari sebuah trip itu priceless.
Travel is the only thing you buy that makes you richer.
"Aduh Min, tapi enggak punya duit!" 
Enggak punya duit, apa enggak punya niat?
Ngobrol tuh sama teman saya Suko yang hidupnya di Depok pas-pasan, tapi sudah hampir ke seluruh pelosok benua di dunia.

Menata diri sendiri (di dunia nyata dan juga dunia maya!).
Pada akhirnya menjadi #funemployed pasti karena suatu tujuan yang sudah direncanakan. Entah bekerja atau melanjutkan kuliah. Masa-masa enggak sibuk ini bisa kamu gunakan untuk cari kerja atau cari kampus dan beasiswa. Banyak lho yang harus disiapkan.
Saya belum tahu banyak tentang persiapan beasiswa, tapi setahu saya sudah sejak jauh-jauh hari kita harus menyiapkan sertifikat bahasa inggris, surat rekomendasi kampus, ataupun esai kan? It surely takes a lot of time.
Kalau untuk urusan pekerjaan, udah enggak ada alasan males buat CV deh. Belajar percantik diri sendiri agar terlihat lebih kredibel di mata calon bos. Hidup saya dikelilingi rekruter dari berbagai perusahaan. Benar banget lho bahwa sekarang social media juga jadi pertimbangan memilih kandidat. Makanya beresin deh itu foto-foto atau postingan yang kurang pas dikonsumsi publik.
Yang terpenting, mulai belajar 'menjual' diri sendiri atau bahasa kerennya personal branding. Bagaimana pun caranya, buatlah orang lain teringat hal unik dari diri kita sendiri.




What I learned the most during my #funemployed days is to cherish every single day.
Jangan sampai ada satu hari yang terbuang percuma. Sekarang saya bertarung sekaligus berteman dengan waktu untuk mencapai mimpi-mimpi saya.


last but not least,


ENJOY BEING #FUNEMPLOYED!


No comments:

Post a Comment